Media dan Perspektif Sejarahnya


Dunia digital saat ini membawa perubahan signifikan dari cara lama yang konvensional menuju trend global lewat media online yang lebih modern. Peralihan ini pun dirasakan di Semarang yang selama ini direkat erat oleh koran Suara Merdeka yang memiliki tagline "Perekat Komunitas Jawa Tengah" saat menyambut hari jadinya yang ke-69. Terasa sekali upaya surat kabar harian ini berjuang sekuat tenaga untuk bertahan dari gempuran sosial media maupun media modern lainnya.

Beratnya beban perusahaan untuk tetap mempertahan kualitas cetakan dan jumlah eksemplar tampaknya tak sebanding antara pengeluaran dengan pemasukan. Sepertinya bila tak ada inovasi baru dari grup Suara Merdeka Semarang ini, terutama gagasan dari para elite dan pucuk pimpinan perusahaan, ibarat kapal yang karam maka semua bagian yang memiliki peran dalam perusahaan terpaksa harus menyelamatkan diri sendiri.

Tentunya ini suatu kehilangan yang teramat besar tetapi memang tak dapat dihindari dalam pergerakan dunia serta dinamika bisnis yang dinamis. Bahkan dukungan dari pemerintah lokal pun baik dari pemerintah Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah sepertinya tak bisa diharapkan lebih jauh. Tersirat dari ucapan selamat ulang tahun dari Walikota Semarang waktu itu, Hendrar Prihadi:
"Semakin tua, kertasnya mungkin bisa musnah tapi catatannya tetap jadi sejarah"

Apapun alasannya, perusahaan pailit atau koran Suara Merdeka bangkrut, gulung tikar, kapal karam tetap saja Suara Merdeka sempat menjadi perekat komunitas Jawa Tengah. Semoga ada solusi agar surat kabar ini tetap dapat bertahan di tengah masyarakat walau digempur oleh kenyataan bisnis yang kejam di kota metropolis lainnya yang lebih kejam dari ibu tiri. 

Komentar

Postingan Populer